agen poker indonesia

Ada Apa dengan Chelsea?

02 Nov 2017

Performa buruk Chelsea kembali terjadi ketika menghadapi AS Roma di Liga Champions tengah pekan lalu. Ada apa dengan Chelsea?

Kekalahan menghadapi AS Roma menghadirkan kekhawatiran seperti musim 2015/2016. Mereka, para pendukung Chelsea, tentu saja tak mau klub kesayangan langsung anjlok performanya setelah menjadi juara Premier League pada musim sebelumnya.

Jika performa yang tak memuaskan seperti ini terus berlanjut maka posisi Antonio Conte sebagai pelatih pun akan terancam. Layaknya Jose Mourinho, yang harus kehilangan posisinya pada musim berikutnya setelah sukses mengantarkan timnya menjadi juara.

Khawatir memang sesuatu perasaan yang wajar. Namun juga perlu diingat bahwa Conte juga tak mengawali musim dengan baik musim lalu di awal-awal. Ia pun harus menghadapi isu tentang pemecatan dirinya. Musim ini kembali terjadi, setelah mengalami kekalahan menghadapi AS Roma, rumor pemecatan Conte semakin nyaring terdengar.

Membandingkan performa Chelsea musim ini dengan musim kemarin ketika sukses menyabet gelar Premier League keenam sebenarnya tak terlalu beda jauh. Sejauh ini, Chelsea mengalami kekalahan tiga kali di Premier League dan satu kali hasil imbang dari 10 penampilan. Saat ini mereka berada di peringkat keempat klasemen sementara.

Musim lalu, Chelsea mengalami kekalahan dua kali dan hasil imbang satu kali pada 10 laga perdana. Posisinya pun sama dengan musim ini, yakni di peringkat empat klasemen.

Bagaimanapun, Chelsea tak boleh berdiam diri menghadapi masalah yang terjadi sekarang ini. Mereka harus segera bangkit jika ingin meraih gelar lagi.

Seperti yang dikatakan Conte setelah menghadapi AS Roma, menyusul kekalahan yang terjadi, pasukannya patut merasa khawatir.

"Jika Anda kemasukan tiga gol (ketika menghadapi AS Roma) anda sepatutnya khawatir karena itu artinya ada sesuatu yang tidak bekerja dengan baik," ucap pelatih asal Italia tersebut.

Dalam pernyataannya tersebut, Conte kemudian melanjutkan bahwa ia belum tahu apa yang sebenarnya yang terjadi dalam timnya. Ia akan melakukan evaluasi pertandingan dan melakukan peninjauan kembali terhadap taktik yang ia terapkan.

Menghadapi AS Roma

Jika kita melihat kembali penampilan Chelsea saat menghadapi AS Roma, penampilan mereka sebenarnya tak buruk-buruk amat. Chelsea bahkan lebih menguasai jalannya permainan meskipun tampil di hadapan intimidasi kandang lawan. The Blues juga tercatat melakukan tembakan ke arah gawang lebih banyak daripada tuan rumah. Namun memang seluruh upaya yang dilakukan tersebut tak ada yang berbuah gol.

AS Roma yang kerap kesulitan menghadapi klub asal Inggris justru bisa membuat kejutan. Kemenangan 3-0 Serigala Ibukota Italia atas Chelsea tersebut merupakan kemenangan terbesar dalam sejarah mereka atas klub Inggris di Liga Champions. Pasukan Eusebio Di Francesco mencetak gol pertamanya lewat Stephan El Shaarawy pada menit pertama. Il Faraone kemudian menggandakan keunggulan AS Roma di menit 36.

Meski tertinggal dua gol di babak pertama, Chelsea sebenarnya masih bisa memberikan perlawanan hingga akhirnya kebobolan lagi pada menit 63 lewat tembakan Diego Perotti dari luar kotak penalti. Setelah itu tampak mental Chelsea hancur.

Masalah Lapangan Tengah

Dalam pertandingan ini, N'Golo Kante tidak bisa bermain karena mengalami cedera. Lantas, Conte menduetkan Cesc Fabregas dan Tiemoue Bakayoko sebagai dua gelandang tengah dalam formasi dasar 3-4-2-1.

Absennya mantan pemain Leicester City tersebut sangat terasa bagi kubu Chelsea ketika menghadapi AS Roma. Perpaduan antara Fabregas dan Bakayoko ternyata belum mampu menjaga stabilitas lini tengah Chelsea. Conte juga memasang dua pemain tersebut ketika menghadapi Crystal Palace di Premier League beberapa pekan lalu dan mereka juga kalah.

Inilah yang harus menjadi perhatian Conte untuk perbaikan ke depannya. Salah satu dampak buruknya lini tengah menyebabkan daerah pertahanan Chelsea mudah untuk dieksploitasi lawan.

Ketika menghadapi AS Roma, Fabregas tercatat empat kali melakukan tekel sukses dari lima kali percobaan. Memasang gelandang asal Spanyol tersebut sebagai gelandang bertahan cenderung sebagai pemaksaan. Sementara Bakayoko hanya satu kali berhasil melakukan tekel dari dua kali percobaan.

Fabregas memang memiliki kemampuan umpan-umpan yang bagus, visi bermainnya juga bagus dan itu terbukti ia sebagai pemain paling banyak mencetak peluang di Premier League musim ini dibandingkan dengan rekan-rekannya. Namun ia kurang mahir dalam urusan bertahan.

Bakayoko juga bermain apik bersama Monaco musim lalu. Namun pemain 23 tahun tersebut sepertinya masih perlu banyak mempelajari permainan Chelsea. Apalagi, ia datang ke Stamford Bridge musim lalu dalam kondisi cedera.

Jika seumpama Kante dan Nemanja Matic masih bermain bersama mungkin statistik Chelsea di lapangan tengah akan lebih baik. Sebab ketika menghadapi AS Roma, mereka harus bertarung dengan tiga gelandang petarung yang beranggota Radja Nainggolan, Daniele De Rossi dan Kevin Strootman.

Sayangnya, Matic sudah tidak berada dalam Chelsea. Secara mengejutkan, gelandang jangkar asal Serbia tersebut dilepas ke Manchester United seharga 45 juta euro pada musim panas kemarin. Hingga kini pelepasan itu masih menjadi pertanyaan. Pasalnya, pemain 29 tersebut merupakan kunci stabilitas Chelsea musim lalu di lapangan tengah bersama Kante. Duet antara dua pemain tersebut menghasilkan 30 kemenangan bagi Chelsea di Premier League dengan 10 clean sheet.

Dan Matic kini menjadi pemain penting di MU. Sejauh ini, ia tercatat 14 kali tampil di semua kompetisi dan timnya 11 kali mencatatkan clean sheet. Penjualan Matic bisa dikatakan sebagai blunder terbesar Chelsea pada bursa transfer musim panas kemarin kendati kemudian mereka mendatangkan Bakayoko.

Pekerjaan Rumah Conte

Sepeninggal Matic, Chelsea tercatat baru lima kali melakukan clean sheet di semua kompetisi musim ini. Lini belakang cenderung tidak stabil. Conte harus melakukan perubahan pemain sembilan kali dalam barisan tiga bek dalam 17 pertandingan musim ini. Perubahan juga sering terjadi karena Cesar Azpilicueta yang musim lalu bermain bagus malah bermain buruk musim ini. Kondisi tersebut diperparah dengan absennya Victor Moses yang mengalami cedera.

Dalam mencetak gol, lini tengah juga berperan sangat besar. Sebab jika lini tengah tangguh, akan membuat lini serang bisa fokus dalam menyerang. Intinya, lini tengah kudu menjadi perhatian besar bagi Conte dalam memperbaiki timnya.

Pemain senior di atas lapangan tampaknya juga menjadi elemen penting bagi Chelsea. Musim lalu, Chelsea masih punya nama-nama pemain senior seperti John Terry dan Branislav Ivanovic. Dua nama ini sudah tak ada dan skuat Chelsea sekarang relatif lebih muda.

Dalam skuat Chelsea sekarang terdapat dua pemain senior yaitu Willy Caballero (36 tahun) dan Eduardo (35 tahun). Namun dua pemain tersebut jarang mendapat kesempatan bermain.

Sementara itu, Gary Cahill ditunjuk sebagai kapten tim di atas lapangan sepeninggal Terry. Namun jiwa kepemimpinan pemain 31 tahun tersebut sepertinya belum terasah. Masalah tersebut juga harus mendapat perhatian.

Namun penting untuk diingat tak perlu terlalu khawatir melihat performa Chelsea sejauh ini. Laju pasukan Conte di awal-awal musim lalu juga tak begitu meyakinkan. Namun Conte pasti punya cara khusus untuk menyelesaikan semua masalah yang ada.